Saturday, June 30, 2012

Kista Endometriosis


Sejak awal 2010, saya menemukan bahwa di ovarium saya ada Kista Endometrium dari pemeriksaan USG transvaginal. 
.
Kista Endometrium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur / ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar ovarium.
Kista ini bersifat jinak, bisa diketahui dari pengecekan darah CA-125, untuk melihat apakah ada sel-sel kanker berbahaya dalam kista ini.
Kista saya kecil, diameternya 3 cm (ovarium kanan) dan 2 cm (ovarium kiri). Tiap kali ke dokter, selalu dipantau melalui USG transvaginal, dan memang terbukti ukurannya tetap sebesar itu. Tidak bertambah besar namun juga tidak bertambah kecil.

Penyebab Kista Endometrium (atau sering juga disebut Kista Coklat – karena warnanya coklat) sampai sekarang tidak diketahui. Karena pada dasarnya pertumbuhan folikel di ovarium adalah hal yang wajar tiap kali wanita ber-ovulasi. Namun pertumbuhan folikel yang tidak terkontrol inilah yang menyebabkan terjadinya kista.
Ada yang bilang, ada unsur genetic juga dalam pertumbuhan kista. Kalau saya sendiri, terus terang tidak tahu apa penyebabnya. Tapi ada kemungkinan karena setelah keguguran (Mei 2009) saya sempat mendatangi dokter dan saat itu karena kami ingin memulai lagi program hamil, dokter memberikan Profertil yang dikonsumsi selama 3 siklus. Fungsi Profertil untuk membesarkan sel telur. Namun belakangan baru saya ketahui,  menurut seorang dokter, Profertil ternyata juga merangsang endometrium.
Untuk yang punya riwayat endometriosis, biasanya dokter lebih berhati-hati meresepkan obat penyubur. Terakhir saya diberikan Femara (Letrozole) yang sebenarnya adalah obat untuk kanker payudara. Namun efek samping Femara tidak merangsang endometrium.

Kembali ke riwayat endometrium ini, banyak yang bilang mereka yang punya kista endometriosis akan mengalami masalah dalam menstruasinya. Misalnya menstruasi yang berlebihan jumlahnya (misalnya harus ganti pembalut s/d 10 kali sehari) atau kram perut sakit sekali sehingga menghambat aktivitas. Jumlah darah haid yang berlebihan itu disebabkan karena selain luruhnya dinding rahim (seperti menstruasi normalnya) namun juga kista endometrium itu juga berdarah.
Saya sendiri tidak mengalami permasalahan menstruasi se-ekstrim itu. Sejak remaja s/d menikah, haid selalu teratur dan lancar. Maka dari itu, semua dokter yang didatangi menyatakan memang kista ini tidak membahayakan dan tidak perlu dioperasi. Beberapa dokter juga bilang, kista endometriosis ini akan sembuh sendiri kalau hamil. Karena saat hamil, tidak ada ovulasi, artinya tidak ada folikel sel telur yang membesar sehingga kista pada akhirnya akan hilang sendiri. Namun di sisi lain, kista ini sendiri menghambat terjadinya kehamilan. Jadi seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnhya.

Selama 2 tahun kami menempuh berbagai jenis pengobatan alternative.
Namun beberapa teman di luar negeri yang juga punya riwayat kista endometrium, menyarankan sebaiknya dioperasi saja. Seorang teman yang punya kista 7 cm, dilaparoskopi kistanya, dan sebulan setelah itu langsung hamil.

Beberapa obgyn memang menyarankan untuk operasi, tapi beberapa obgyn juga tidak menyarankan operasi. Setelah fase ‘bingung’ yang cukup lama dan setelah “berpetualang” untuk mengobati kista kemana-mana, akhirnya kami mendatangi Dokter Budi Wiweko di Klinik Yasmin RSCM Kencana, berkat referensi dari seorang dokter. Dalam pemeriksaan, kelihatan bahwa efek kista ini sudah membuat terjadinya perlengketan di sekitar ovarium. Perlengketan dan efek buruk kista inilah yang menghambat sel telur sehat dan menghambat sperma yang mendekati sel telur.
Prinsip Dokter Budi Wiweko sebagai ahli infertilitas, adalah : menghilangkan dulu segala penghambat infertilitas, baru bisa dilakukan program hamil. Karena itu, dokter ini dengan tegas menyatakan bahwa kista ini sebaiknya segera dioperasi.

28 Mei 2012 lalu akhirnya saya menjalani laparoskopi di Klinik Yasmin RSCM Kencana. Cerita tentang laparoskopi ini akan saya ceritakan di postingan lain.

Singkat cerita, setelah dilaparoskopi, keluarlah kista-kista saya tersebut.
Here’s the pics :
atas : penampakan dari kamera laparoskopi
bawah : penampakan si kista setelah dikeluarkan. warnanya coklat. 




Sekarang, setelah 2 tahun hidup dengan kista, akhirnya ovarium saya bersih. Sekarang saya harus benar-benar menjaga supaya kista ini tidak tumbuh lagi. Dan pastinya harus segera hamil supaya tidak memberi kesempatan kista untuk tumbuh lagi.
One step closer to another. Bless us God.

Xoxo. 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment