Monday, June 6, 2016

Staycation : Quick Refreshment for Body & Mind

Sejak tinggal di luar Jakarta (a.k.a Bogor area), saya & suami sudah beberapa kali staycation di Jakarta & sekitarnya. Pertimbangan utama staycation adalah pengen liburan praktis, singkat, ekonomis dan yang pasti merasakan suasana baru. Yang terakhir itu sih biasanya jadi motivasi utamanya, pengen merasakan suasana baru karena lagi jenuh dengan suasana yg ada. Dan kenapa praktis, karena staycation cukup dilakukan pas weekend, 2 hari 1 malam. Cukup banget untuk bikin refresh lagi. Suasana beda juga karena di staycation, malamnya nginap di hotel (nggak pulang ke rumah), jadi ada merasa 'jauh dari rumah', walau sebenarnya jarak ke rumah juga hanya sekitar 1 jam perjalanan :).

Kami pernah staycation di area Jakarta Utara (daerah Kota dan sekitarnya) karena waktu itu sekalian ke Pulau Seribu. Jadi hari 1 keliling Kota Tua, Petak Sembilan, menelusuri berbagai gang kecil dan wihara-wihara tua disitu. Hari ke 2 ke Pulau Seribu, sorenya pulang. 

Kami juga pernah staycation di area Jakarta Timur (TMII), pas waktu anniversary. Ceritanya sekalian nostalgia, karena kami menikah di TMII (gereja Katarina TMII dan gedung sasono). Jadi sekalian staycation di hotel Santika TMII, paginya misa di Gereja Katarina tempat kami menikah (gereja ini gereja kecil mirip kapel). 

Beberapa kali juga nginap di Hotel dekat Rumah Sakit, nggak diitung staycation yaa...karena kan tujuannya bukan refreshing :) 

Terakhir  kami staycation ke area Jakarta Pusat. Walau sering CFD di area situ, tapi staycation ini beda. Ya sekali lagi karena malamnya pulang ke hotel, gak ke rumah :)

Hari pertama kami ke area Pantai Indah Kapuk, ke Hutan Mangrove PIK. Saya amaze banget melihat hutan mangrove untuk pertama kalinya :). Apalagi di area Jakarta. Hutannya terawat, bersih dan sangat unik. Dan sepertinya tidak banyak orang yang tahu ada Hutan Mangrove seperti ini di Jakarta. Padahal jajaran bakau/mangrove ini menjaga pantai utara Jakarta dan juga banyak sekali manfaatnya untuk tanah Jakarta. 
Lokasi Hutan Mangrove PIK ini persis di seberang sekolah TzuChi. Ada gapura kayu kecil. Mobil bisa masuk ke parkiran di dalamnya. Ada tiket masuk untuk mobil 10rb dan untuk dewasa @ 25rb. 
Siap-siap pakai sepatu keds/sneakers, karena untuk jalan di hutan mangrove ini kita jalan di atas bambu/kayu di atas rawa-rawa. Jadi kalau pakai flat shoes/sandal, telapak kaki bakal sakit. 
Oya, untuk masuk ke dalamnya juga kita nggak diperbolehkan bawa makanan/minuman. Tujuannya ya supaya nggak nyampah di dalam kawasan hutan. Ada restoran di bagian depan. Dan kalau mau, cuma 10 menit kok ke kawasan Kuliner PIK yang hits itu...:)

Hutan Mangrove PIK

Mangrove kecil hasil sumbangan berbagai instansi/donatur

Cottage2 tempat nginap di hutan Mangrove

Setelah capek berpanas2 ria di hutan Mangrove ini, kami menuju hotel staycation. Saya sudah booking di Morrissey Hotel Residences di Jl. Wahid Hasyim. Kenapa? karena ada beberapa review positif tentang hotel ini untuk staycation, hotelnya keren, harganya masuk akal, lokasi strategis. :) Walau memang suasanyanya maskulin. Dan kerennya adalah konsep hotel dan desainnya memang unik. Bahkan hotel ini punya personifikasi I Am Morrissey. Jadi seolah saat tinggal disana, kita berjumpa langsung dengan si Morrissey ini. Morrissey ini mem-personifikasi diri sebagai pria modern-metroseksual begitu deh, yang saya tangkap dari keseluruhan konsep dan desain hotel.

Area Lobby
Ornamen Telepon kuno unik

ornamen Pee Dog dimana-mana, termasuk di kamar
Vespa orange sebagai dekorasi di lobby

Desain area lift yang cool...

Karena konsepnya hotel residences, jadi memang lebih dari sekedar hotel. Kamarnya dengan desain modern-maskulin dengan nuansa hitam-putih-abu-abu. Lengkap dengan dapur komplit (kompor, microwave, kulkas, peralatan masak), sofa, meja kerja, lemari baju luas,meja setrika. Sangat spacious, praktis dan nyaman. Karena memang sejatinya hotel ini adalah serviced apartemen untuk para pria-pria modern ibukota :)

Dapur modern yang komplit dengan semua peralatan masak (tinggal bawa bahan makanan)

Meja kerja yang nyaman

Comfy bedroom area

Sofa sebagai area 'living room'

Dan salah satu hal yang wajib ada sebagai syarat staycation adalah : kolam renang yang asik. 

Infinite Pool yang asik
Intinya staycation itu kan untuk refreshing, ganti suasana, dan senang-senang. Dan itu semua didapat dari hotel ini :)
Oya, lokasi yang strategis di pusat kota juga memenuhi kebutuhan nostalgia saya sebagai anak Jakarta (yg un-urbanisasi ke Bogor setelah menikah). Jadi untuk makan malam pun kita nostalgia ke kaki lima di sepanjang Jalan Sabang :)

2 hari 1 malam. That's all we need from a decent staycation. 

See you on the next Wibowo's Trip-cation. :)

xoxo



Friday, April 22, 2016

2nd cycle IVF : Frozen Embryo Transfer story

Setelah melalui fresh cycle ivf di bulan September 2015 lalu, badan saya melalui penyesuaian yang cukup lama untuk kembali back to normal. Jadi setelah mens di bulan Okt 2015 yg menandakan embryo kami gagal implant, saya tidak mens lagi sampai 12 Feb 2016. Istilahnya anovulasi. Kami berpikir ini masih wajar karena badan saya masih beradaptasi dgn habisnya efek obat2an ivf saat itu. Saya jg positive thinking saja mgkn masih efek dari suntikan Tapros 3M yg memang menghentikan siklus menstruasi untuk menjinakkan kista saya. Jadi malah ini menjadi hal yang positif. Dengan anovulasi, kista saya mengecil (terakhir usg, tinggal 2cm di sisi kiri saja). 

Kami memutuskan menunggu 1 siklus dulu, untuk kembali ke dokter meneruskan kembali ivf kami. Mens berikutnya baru datang tgl 21 Maret. Sesuai niat, di hari ke-3 mens kami datang ke Dokter Iko, krn kebetulan 2 hari sebelumnya dokter lg cuti ke aussie.

Karena masih ada 5 embryo, kami tinggal melakukan Frozen Embryo Transfer (FET) prosedur. Yang jauh lebih simple dari prosedur ivf komplit. Karena basically sekarang tinggal menyiapkan rahim saya untuk ditanam embryo2 kami ini.

Obat2an pun hanya diminum, tidak ada suntik2an sama sekali. (Thanks God!).
Mulai hari ke-3 -10 saya diberi Progynova. Semacam obat stimulasi hormon estrogen (estradiol) untuk menjaga ketebalan dinding rahim. Dosis nya ditambah per 3 hari.
Hari ke 10, saya kembali ke dr untuk cek ketebalan/kesiapan dinding rahim.  Dinding rahim saya oke dan ketebalannya sudah mencukupi yaitu 9mm. Maka dokter menjadwalkan prosedur FET di hari Rabu 6 April. Atau di hari ke-14.
Obat2an ditambah sedikit, crinone (progresterone), duphaston dan asam folat biasa. Karena kebetulan saya jg sedang batuk pilek, dokter jg resepkan antibiotik & obat batuk.

Menjemput impian di hari Rabu...

Rabu, 6 Apr 2016
Sehari sebelumnya (Selasa) masih fase galau dan moody. Karena belum ada kabar dari Klinik. Seperti ivf lalu, kami memilih menginap di hotel dekat RS supaya lebih santai. Sampai di hotel, masih galau krn belum juga ada kabar kepastian dr klinik sampai sore. "What if.." thinking mulai bermunculan. Akhirnya jam 8 malam baru dapat no hp suster yg ngurus jadwal. Saya kontak by wa dan baru liat balasannya Rabu pagi. Jadi ET jam 12 siang. Thank God udah nginep di deket RS.

Sayangnya, ternyata jam 1 kurang suster bilang Dokter Iko stuck di persiapan konvensi internasional fakultas dan saya direfer untuk ET dengan dr. Muharam. Sempet gemesh dan kzl. Tp ya sudahlah...resiko punya dokter yg juga dosen berprestasi terbaik seIndonesia.

Frozen Embryo Transfer (FET)
Dari 5 embryo yg tersisa, hanya 4 yg bertahan. Dari 4 yg frozen, saat di-thawing, hanya 3 yg cukup kualified. Embryo yang best quality adlh no.9. My number. 
Jam 13.30 ET, saya istirahat di ruang tindakan sampai jam 14.45. Berdasar pengalaman yang lalu, kali ini saya bawa ipod ke ruang tindakan, jadi saat harus berbaring 1 jam setelah ET, saya nggak mati gaya / stress sendiri. 
Setelah 1 jam berbaring, saya berpakaian dan menunggu dijemput Bru. Ini berasa banget santainya. Sementara pasien lain banyak yang memilih rawat inap, seperti sebelumnya, kami memilih menginap di hotel saja. Lebih rileks untuk kami juga. Lagipula saya sudah baca banyak dan tidak ada korelasi positif antara bedrest total setelah ET dengan tingkat keberhasilan implantasi embryo. Selama dalam 2 minggu tersebut mengurangi aktivitas dan tidak stress. 

Obat2an yg diberikan utk FET jauh lebih simple. Dan TANPA suntikan. I am so glad! Basically obatnya tidak beda dgn yg saya konsumsi sejak pertemuan dokter sebelumnya (progynova, duphaston, crinone, dan ditambah medrol untuk anti inflamasi).

Biaya untuk ET nya kemarin adalah 19 juta. Ditambah obat-obatan, ya mungkin jatuhnya sekitar 20juta. Karena kami menyimpan embryo selama 6 bulan juga, jadi juga dikenakan biaya simpan embryo.

2 week wait
Berhubung sudah nggak kerja full-time, saya lebih santai kali ini untuk menjalani 2ww. Hanya "menolak" beberapa project di bulan April saja. No regret. Karena memang kami sudah alokasikan bulan April ini untuk ivf. Jadi seperti yang lalu, saya banyak menghabiskan waktu di rumah, gak bedrest sepenuhnya. Bed and couch rest tepatnya. Masih aktivitas di dalam rumah. Masak, cuci piring, dsb. Karena saya percaya dengan badan banyak bergerak, peredaran darah ke rahim juga akan semakin lancar. Tapi memang murni hanya di rumah. Menghindari bepergian dulu yang beresiko banyak guncangan-guncangan di perjalanan. 

Ambil Raport
Setelah 2 minggu yang terasa seperti 2 tahun :) Saatnya ambil raport, alias cek beta HCG. Saya udah sempat colongan testpack 2 hari sebelumnya, dan hasilnya negatif. Walau nggak menutup kemungkinan hasil bHcg bisa berbeda. Tapi kami udah lebih realistis dan punya persiapan hati yang lebih kuat kali ini. Iya, bhcg saya masih rendah banget yang artinya belum hamil. 
Untungnya saat ambil raport ini, pasien dokter iko sedang nggak banyak, dan klinik sedang santai. Jadi kami bisa ngobrol cukup banyak dengan dokter untuk "what to do next". 

Beberapa alternatif yang kami diskusikan sama dokter juga termasuk metode untuk memastikan kualitas kromosom embryo adalah yang paling qualified. Namanya Pre Genetic Screening (PGS). Namun entah kenapa, saya kurang sreg dengan metode ini. Karena metode ini istilahnya "membuang" embryo-embryo yang kurang bagus, dan hanya menanam embryo yang bagus. Padahal bagi saya pribadi, semua embryo yang didapat dari proses ivf adalah calon babies yang memiliki hak yang sama untuk ditanam kembali ke rahim. Kecuali seperti kasus embryo kami yang memang tidak bertahan sendiri saat di-thawing setelah difrozen, itu natural selection. 
Jadi metode ini sepertinya tidak akan kami lakukan untuk next step nya. 
Ada metode lain yang akan dicoba, tapi saya juga sedang pelajari lebih lanjut karena sempat baca-baca juga. Yaitu melakukan scratching (membuat guratan-guratan) di dinding rahim sebelum ET. Sehingga akan membantu embryo untuk memudahkan menempel. I will update all about it later. :) 

Oya, intinya ketidakberhasilan sebuah proses ivf adalah sesuatu yang "nothing to blame about". Tidak ada yang bisa disalahkan. Faktor X. Karena pada dasarnya embryo kami bagus. Dan dinding rahim saya bagus. 2 aspek itu adalah penentunya : kualitas embryo dan dinding rahim. 
Jadi artinya memang kami masih harus menunggu lagi. 

Saya juga mendapat banyak informasi obyektif mengenai berbagai hal seputar ivf dari blog seorang dokter dari India yang sangat informatif. Saya senang banget bacanya karena no judgement. Forum-forum lebih banyak berisi curhatan (dan emang cocok untuk curhat). Tapi di blog ini saya belajar banyak tentang seluruh proses yang kami lalui ini. Ini link nya : http://blog.drmalpani.com/2012/09/the-x-factor-in-ivf.html

We're okay. Hati kami sudah diselimuti kekuatan luar biasa. Tidak lagi mudah pecah berkeping-keping :). We already have many plans ahead.  
Yang pasti kami nggak akan berhenti berusaha. Karena kami percaya, God helps those who help themselves. 

Thanks for reading :)

xoxo

Monday, March 7, 2016

Mewarnai yang menenangkan


Belakangan ini, jika kita pergi ke toko buku, biasanya kita “disambut” oleh setumpuk buku-buku mewarnai untuk orang dewasa, dengan berbagai judul dan tipe. Di rak-rak tersebut ditambah dengan judul “best seller”. Buku-buku mewarnai tersebut, juga biasanya ditambah sub-judul : “terapi warna anti stress”, “bebas stress”, dsb.  Ternyata fenomena munculnya buku mewarnai untuk orang dewasa ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tren ini dimulai sekitar tahun 2012-2013 lalu. Salah satu buku mewarnai untuk orang dewasa yang menjadi pioneernya adalah buku Secret Garden dari Johanna Basford. Buku ini bahkan menjadi salah satu best selling book  di Amazon.com. Saat ini, tren buku mewarnai ini semakin besar. Bahkan ada puluhan tipe buku mewarnai untuk orang dewasa terbitan lokal yang juga sedang sangat digandrungi.
Padahal, beberapa dekade terakhir, mewarnai gambar, sepertinya adalah ranah anak-anak yang sedang belajar di taman kanak-kanak. Lalu, mengapa ternyata orang dewasa (ternyata) juga menyenanginya?
Dalam pemahaman Art Therapy, seni adalah sesuatu yang universal, tidak terikat oleh usia, budaya, gender, dan lainnya. Gambar dan warna, adalah bahasa yang universal juga. Dan menurut American Art Therapy Association, terapi seni (art therapy) adalah suatu cara dengan menggunakan proses penciptaan kreasi seni, dalam rangka mengeksplorasi perasaan, mendamaikan konfik emosi, meningkatkan pemahaman diri, mengatur perilaku, membangun kemampuan sosial, meningkatkan orientasi realitas, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan self-esteem. Bisa dikatakan bahwa terapi seni memang menyediakan sarana untuk menghubungkan tubuh dan pikiran (body & mind). Dalam dunia psikologi terapi dengan menggunakan media seni (gambar) bukanlah sesuatu yang baru. Teori-teorinya sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1940an. Meskipun lingkup terapi seni tidak terbatas pada gambar saja, tapi juga mencakup seni suara, seni kerajinan tangan (kriya), seni tari, dan sebagainya. Namun, secara umum terapi dengan menggunakan seni gambar, merupakan yang paling aplikatif dan paling populer digunakan.
Namun, bagaimana sesungguhnya sebuah sarana seni dalam bentuk gambar dan warna, bisa sebegitu hebatnya dalam membantu seseorang mencapai kesejahteraan mental tersebut?

  • Gambar dan warna sebagai bahasa universal
Semua orang pada dasarnya senang menggambar dan senang pada warna-warni. Menggambar (seperti yang dipelajari di taman kanak-kanak), pastinya meninggalkan kenangan pada setiap individu dewasa. Begitu juga dengan warna. Setiap orang pasti memiliki warna favorit. Menggambar dan warna berkorelasi dengan sesuatu yang positif. Jadi itulah sebabnya, pada dasarnya setiap orang dewasa bisa “kembali” menikmati ekspresi masa kanak-kanaknya saat menghadapi kertas bergambar dengan beragam alat mewarnai.

  • Gambar dan warna memberi wadah untuk berekspresi
Banyak di antara kita yang senang mencoret-coret (doodling). Misalnya, saat sedang berbicara di telepon, lalu tanpa disadari, tangan kita menggambar bentuk-bentuk tidak jelas di kertas. Atau saat berada di dalam meeting atau di kelas, saat mendengarkan orang lain bicara, tanpa sadar kita menggambar-gambar di notes kita. Pada dasarnya setiap orang membutuhkan wadah untuk berekspresi. Namun dalam rutinitas, kesibukan, dan norma-norma yang mengikat sebagai orang dewasa, seringkali kita sendiri bingung bagaimana kita harus mengekspresikan diri. Akhirnya, kita menjalani keseharian hidup tanpa memikirkan pentingnya mengekspresikan diri. Lalu, tanpa disadari, berbagai persoalan hidup semakin menekan dan akhirnya kita menjadi stress, depresi, cemas, dan misalnya jadi berujung menyakiti diri sendiri atau orang lain dengan perbuatan/perkataan kita. Pada dasarnya, semua kebuntuan emosi tersebut, bisa dicegah apabila kita tahu bagaimana caranya mengekspresikan emosi. Menggambar/mewarnai adalah salah satu cara untuk mengekspresikan emosi. Menggunakan kombinasi warna tertentu, membuat suatu bentuk tertentu,dan menyelesaikan suatu gambar, semuanya memberi rasa menyenangkan pada diri. Di social media yang dibuat oleh para penulis buku mewarnai tersebut, sebagian besar komentar dari mereka yang mem-posting hasil mewarnainya di sosial media tersebut berisi seputar rasa puas dan bangga bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan gambar tersebut.  Ekspresi emosi dengan bentuk gambar dan mewarnai seperti ini adalah wujud yang positif dan sehat.

  • Gambar dan warna yang membebaskan sekaligus menenangkan
Saat menghadapi kertas, gambar, dan alat mewarnai, lalu mulai mengisi bentuk gambar dengan warna, kombinasi warna, dan seterusnya sampai selesai. Pada dasarnya kita juga belajar untuk fokus pada sesuatu. Fokus pada gambar, bentuk, warna, yang semuanya begitu mengasyikkan. Secara tidak disadari, kita melakukan meditasi. Yaitu fokus pada sesuatu, pada “here and now”, dan tidak mencemaskan berbagai hal lain. Jauh dari keruwetan pikiran. Tanpa disadari pun, kita menjadi lebih tenang, lebih rileks. Apalagi di dunia serba digital ini, fokus pada sesuatu selama beberapa waktu tanpa diganggu oleh smartphone, adalah sesuatu yang positif bagi kesejahteraan mental kita.
Dalam terapi seni, mewarnai memberi efek terapi yang menenangkan karena strukturnya sudah disediakan (berupa gambar yang sudah ada). Sehingga menjadi lebih mudah bagi kita untuk memfokuskan pikiran.

Jadi, tidak salah jika para penulis buku mewarnai tersebut menuliskan efek “anti stress”, “relaxing”, dalam judul bukunya tersebut.

Namun yang juga harus disadari/dihayati, setiap individu pada dasarnya unik dan berbeda. Ada yang merasa sangat cocok menggunakan mewarnai sebagai terapi stress nya, namun ada juga yang tidak. Ada yang malah merasa lebih stress saat menghadapi garis-garis gambar yang kaku dan sudah ditentukan seperti itu. Ada juga yang merasa cocok menggunakan alat gambar pensil warna. Namun ada yang lebih merasa pas menggunakan spidol. Ataupun cat air.

Salah satu saran yang bisa diberikan disini adalah, tujuan dari sebuah sarana terapi seni adalah untuk membantu kita mengenali diri kita juga. Jadi apabila Anda memang menyenangi sarana gambar / mewarnai ini, ada baiknya Anda juga belajar mengenali diri dalam berbagai bentuk preferensi  mewarnai tersebut, sebagai berikut :

-          Apabila Anda malah merasa stress dengan adanya garis-garis / gambar yang sudah ditentukan dalam buku mewarnai, mungkin ada baiknya Anda bukan mewarnai, namun menggambar bebas (free drawing). Ini bukan menggambar di sekolah, jadi tidak ada yang akan menilai hasil karya Anda. Tujuan terapi seni adalah ekspresi emosi, jadi gambarlah bebas sesuka Anda. Atau, boleh gunakan buku mewarnainya tersebut, namun Anda tidak harus mewarnai sesuai dengan garisnya kok, Anda bebas mewarnai sesuka Anda dalam buku mewarnai tersebut. Seunik diri Anda ingin berekspresi.

-          Apabila Anda merasa tidak nyaman dengan alat gambar yang disediakan dari buku mewarnai tersebut (pensil warna / spidol), toh tidak ada yang melarang Anda menggunakan alat mewarnai yang lain. Eksplorasilah berbagai alat mewarnai yang ada. Bisa jadi menggunakan cat air, yang memberi rasa lebih membebaskan. Mencampur warna dengan cat air juga memberikan efek yang mengasyikkan. Atau jika misalnya Anda lebih senang dengan ketrampilan motorik, Anda bisa menggunakan potongan kertas warna / manik-manik untuk  ditempel dan dijadikan kolase di buku mewarnai Anda.

-          Apabila Anda merasa nyaman dengan alat / bentuk sarana mewarnai yang ada, toh tidak ada salahnya juga untuk eksplorasi diri dengan mencoba berbagai sarana gambar yang lain. Terapi seni memiliki rentang yang sangat luas dan Anda punya kebebasan untuk mencobanya. Ingatlah bahwa tujuan dari melakukan ini semua adalah untuk kesejahteraan mental Anda sendiri. Siapa tahu malah Anda menemukan bakat seni Anda yang terpendam selama ini.

Jadi, dengan semua manfaat positif mewarnai (dan menggambar) bagi kesejahteraan mental kita, silakan mulai mewarnai  / menggambar, dan temukan keajaiban menenangkan di dalamnya!
 *****

Daftar pustaka :
Gladding, Samuel.T & Newsome, Debbie. E. “Art in Counseling” in Malchiodi, Cathy.A. (ed). 2003, “Handbook of Art Therapy”. New York : The Guilford Press.

Vick, Randy. M. “A Brief History of Art Therapy” in Malchiodi, Cathy.A. (ed). 2003, “Handbook of Art Therapy”. New York : The Guilford Press. 

(mengcopy / mengutip tanpa ijin pemilik blog, merupakan plagiarisme).

Friday, February 12, 2016

Bangkok Trip (4D3N)

Akhir tahun 2015 lalu, saya dan suami ke Bangkok. Suami sudah pernah sebelumnya untuk working trip, karena saya belum pernah, dan kami selalu dadakan kalau membuat rencana liburan, pertimbangan kemudahan pun akhirnya membuat kami memilih menghabiskan liburan akhir tahun di Bangkok. 

Day 1 (Sabtu 26 Des 2015)
Kami naik AirAsia dari CGK pukul 06.55. Flightnya very ontime dan lancar. Walau ternyata nggak dapat tempat duduk sebelahan. Jadi cukup garing 3 jam sendirian di pesawat. Karena naik Air Asia, mendaratnya di bandara Don Mueang (low cost airport) pk 10.20. Bandara Don Mueang adalah bandara tua di Bangkok, ya semacam Halim PK nya Jakarta deh. 
Kami makan siang di bandara, di lantai 2 area foodcourt, ada Taurus Cafe. Pertama kali saya mencoba boiled rice (dan kemudian jadi jatuh cinta sama makanan hangat ini). 


Boiled Rice (bawah) dan semacam mie kuah (atas)

Dari situ kami naik taxi langsung ke hotel @mind Executive Suite di Sukhumvit. Saya cari hotel di area Sukhumvit berdasar referensi dari suami. Ternyata @mind ini di Soi 80an yang cukup jauh dari pusat kota. Walau begitu, cukup dekat dengan stasiun BTS, jadi cukup memudahkan transportasi juga. 
@mind Executive Suite ini very worth the money. Kamarnya luas, ada meja makan, microwave, kulkas besar, dvd, sandal, kamar mandi luas dan bersih. lingkungannya pun nyaman. Walau masuk ke gang, tapi bisa dijangkau jalan kaki ke jalan raya dan BTS. 






Chatucak Weekend Market
Dari Sukhumvit kami naik BTS (42 baht/orang) ke Chatucak. Chatucak ini pasar yang hanya buka di weekend saja. Saya banyak beli oleh-oleh disini, karena harganya cukup murah. Karena memang tujuan ke Bangkok bukan buat belanja, jadi cukup mengontrol diri untuk gak kebanyakan belanja. 
Kuliner : kami nyobain jajanan kaki lima sticky rice mango, kelapa, dsb. Lalu setelah keluar pasar, kami beli pho di warung pinggir jalan Chatucak. Warungnya unik karena semua jenis topping pho nya (toge, sawi, buncis, daun kemangi, dll) bisa ambil sendiri sepuasnya di atas meja. Tapi kami cukup terkejut saat bayar, walau warung kaki lima seperti itu, harga seporsinya 290 baht! (sekitar 100rb rupiah).
Pho warung pinggir jalan depan Chatucak


Lalu kembali ke Sumkhumvit naik BTS lagi. Beli makan malam take away, buah, air mineral, dsb dari Aeon minimarket saat otw jalan ke hotel.

Day 2 (Minggu 27 Des 2015)
Breakfast di hotel. Sangat memuaskan breakfastnya, saya kembali menikmati boiled rice with pork untuk sarapan :)

Holy Redeemer Church
Kami lanjut ke gereja untuk misa hari minggu di Holy Redeemer Church pk 9.45. Kami naik BTS lanjut naik taxi ke gerejanya. Misa dibawakan dalam bahasa inggris, dan suasana gereja menyenangkan, very multicultural. 



Jim Thomson House
Dari gereja, kami ke museum Jim Thomson House. Jim Thomson ini adalah seorang Amerika yang jadi legenda sutra Thailand. Namun ia menghilang saat tracking di hutan Malaysia tahun 1960an dan tidak pernah diketemukan jasadnya. Lalu rumahnya dijadikan museum. Rumahnya sangat unik karena terbuat dari kayu jati sepenuhnya. Untuk masuk museum bayar 150baht/orang. Museum ini sangat menyenangkan dan edukatif. 
Pemintal Sutra di Jim Thomson House

Tarian Khas Thailand di Jim Thomson House

Jim Thomson House


Siam Center, Siam Paragon, Siam Discovery
Dari situ kami lanjut jalan kaki ke stasiun BTS, ke Siam. Siam ini kompleks mall besar. Terdiri dari 3 mal besar. Siam center, Siam paragon dan Siam Discovery. Kami makan siang di Siam Center. 
Madame Tussauds
Lalu ke Siam Discovery untuk main-main di Madame Tussauds. We had so much fund disini. Enternaning our inner child untuk foto-foto dengan berbagai patung lilin disitu. 


Sealife
Lalu setelah puas di Madame Tussauds, kami lanjut ke Siam Paragon karena tergiur tiket terusan, untuk nyoba ke Sealife. Ini semacam akuarium raksasa, semacam Seaworld dan Jatim Park :) 

Asiatique Night Market
Kami keluar dari Siam sekitar jam 4 sore. Kami lanjut naik BTS ke Saphan Taksin, untuk lanjut naik shuttle ferry gratis ke Asiatique Night Market. Karena weekend, antrian ferry nya cukup panjang. Antri sekitar 30 menit. 
Naik ferry melintas sungai Chao Praya sekitar 30 menit. Sampai di pelabuhan Asiatique. 
Asiatique Night Market ini isinya restoran dan tempat belanja. Juga ada bianglala besar yang cantik disitu. Kami belanja oleh-oleh dan makan street food yang enak banget. Nongkrong bareng-bareng pengunjung lain di area street food nya. Suasana pasar malamnya menyenangkan sekali. 
Street food Asiatique - bbq pork. Soooo good!


Asiatique Riverfront - captured from the fery


Sekitar jam 7an kami kembali naik ferry gratis ke pier, lanjut naik BTS ke Siam, pindah lajur Sukhumvit untk turun di On Mut (stasiun BTS terdekat hotel). 

Day 3 (Senin 28 Des 2015)
Setelah sarapan di hotel, jam 9 kami berangkat naik BTS ke National Stadium, lanjut naik taxi ke Grand Palace
Karena hari ke-3 ini tujuan kami ke kuil, makanya kami menggunakan pakaian yang sopan (celana panjang), karena untuk masuk temple tidak boleh pakai celana pendek. 

Grand Palace
Grand Palace adalah tempat yang juga wajib dikunjungi kalau ke Bangkok. Tiket masuk ke Grand Palace 500 baht/orang. Seharusnya tiketnya terusan dan ada beberapa lokasi tujuan yg bisa gratis setelah dari Grand Palace, yang pengen banget saya kunjungi juga adalah Vimnamek (Largest Teak Castle) tapi sayangnya tutup di hari Senin. Jadi kami hanya puas-puasin di Grand Palace. Karena musim liburan, sangat rame sekali dengan banyaknya rombongan tour di Grand Palace dan cuaca panas terik. 
Saya kagum banget melihat indahnya Grand Palace dan Emerald Budha Temple (di dalam lokasi Grand Palace). 
Grand Palace. So photogenic! No filter needed. 


Wat Pho Temple
Sekitar pk 11.30 kami keluar dari Grand Palace, lanjut jalan kaki ke Wat Pho Temple yang lokasinya di belakang Grand Palace. Tiket masuk Wat Pho 100 baht / orang. Saya amaze melihat patung Budha Raksasa di sini. Sayang bagian telapak kaki Budha sedang direnovasi. 
patung Budha Raksasa

Di komplek Wat Pho juga ada kuil Budha yang dijadikan semacam kuil penghormatan untk arwah orang meninggal, karena banyak foto-foto orang yang meninggal di dinding seputar kuilnya. 
Setelah keluar dari Wat Pho, kami mencari makan siang di jalan belakang temple. Menyusuri jalan dekat Pier Tan Thiet, semacam jalan pasar yang bersih. Banyak penjual obat-obatan / minyak tradisional Thailand. Kami makan siang di cafe internasional yang nyaman banget tempatnya di area pasar itu, namanya Ban Than Thiet. Banyak turis bule yang juga makan disitu, nampaknya memang cafe ini cukup terkenal untuk turis bule. Bersih, AC nya dingin, makanan enak dan harga terjangkau. 

Wat Arun Temple
Setelah makan, kami balik ke area pier, naik kapal fery untuk nyebrang sungai ke Wat Arun. Bayar ferry nya 2,5 baht / orang. Sangat murah karena memang hanya nyebrang sungai saja. 
Begitu sampai sebrang, langsung lokasinya Wat Arun (Temple of the Dawn - karena indahnya saat dawn). Sayangnya saat kami disitu, sedang ada pekerjaan persiapan acara tahun baruan. Sehingga banyak kru mondar mandir, kabel lampu sorot seliweran dimana-mana. 
Temple of the Dawn (wat arun temple)

Dari Wat Arun, balik nyebrang lagi naik fery ke pier. Walau area ramai, susah cari taksi disitu. Akhirnya naik tuktuk ke Giant Swing.

Giant Swing
Giant Swing ini sebenarnya lokasi di kota biasa. Bukan area wisata. Namun ayunan raksasa ini dulu jadi semacam icon nya bangkok. Uniknya di sekitar Giant Swing ini ada puluhan / ratusan burung merpati yang memang dirawat. 
Giant Swing

Dari Giant Swing kami coba masuk ke temple di sebrangnya (Wat Satsu Temple). Disini ngeliat banyak bikhsu yang sedang kerja. 

Dari lokasi ini, kami nunggu taksi tapi lama, akhirnya naik tuktuk lagi 100baht untuk ke National Stadium. Tuktuknya sangat ngebut dan banyak lewat jalan pintas, salah satunya melintas di dalamnya Culalongkorn University. 
Dari BTS National Stadium lanjut ke On Nut, kembali ke hotel untuk istirahat. 
Malamnya kami cari makan malam di resto pinggir jalan dekat hotel, makan Pad Thai dan karena kurang puas, ditambah room service di hotel saja :)

Day 4 (Selasa 29 Des 2015)
Karena malamnya masih belum puas dengan street food di sekitar hotel, kami rencana ingin liat area Sukhumvit soi 38 yang pusatnya street food. Ternyata hanya ramai kulinernya kalau malam hari saja. 
Lalu kami nyebrang ke Sukhumvit soi 55 ke kios Mae Veree, beli sticky rice mango yang katanya terenak. Kos buah Mae Veree ini memang kios jadul banget. Lalu kami juga beli jajanan pasar di pinggir jalan. 
jajanan sarapan di area Sukhumvit soi 55

kios Mae Varee

Kue-kue jajanan di pinggir jalan

Jam 11 kami check out dari hotel, lanjut naik taxi ke Svarnabhumi Airport karena kami pulangnya naik Garuda. Beda dengan Don Mueang, Svarnabhumi ini airport yang baru dan sangat modern. Mirip Changi tapi lebih kecil. Kami nunggu sambil keliling airport, belanja-belanja, dan makan siang di Silom Village di airport. 
Pesawatnya ontime pk 14.10 dan mendarat di CGK juga ontime pk 17.15. 

Bangkok kota yang nyaman dan menyenangkan, makanannya gak ada yg nggak enak. Someday, we will be back :) 

xoxo,

Friday, October 9, 2015

Sharing about our IVF experience

Oya, sebelumnya, my previous post on the whole ivf process until 2 week wait, ada di link Our IVF Journey.

Senin 5 Oktober adalah "bagi raport" pertama dari hasil ET kami. I've been pregnant before, dan kali ini rasanya beda. Tapi kami tetap positive thinking.
Hasilnya cukup heartbreaking karena kadar hormon HCG saya kurang bagus (masih meragukan), tapi progesterone cukup tinggi. Karena itu dokter minta kami menunggu 5 hari dulu, lalu cek lagi. Semoga HCG nya naik. HCG ini adalah indikasi adanya plasenta yang terbentuk dari implantasi embryo di dinding rahim. Progesteron adalah indikasi tersedia cukupnya 'makanan' bagi si embryo. 

Setelah pembagian raport pertama itu, fase heartbreaking yang cukup berat bagi kami. Siapapun yang menjalani proses TTC (try to conceive) seperti kami, pasti sudah sangat familiar dengan heart broken. Saya bilang ke Bru, patah hatinya setelah nikah, jauh lebih menyayat hati dibanding semua patah hati dari semua mantan pacar - diakumulasi jadi satu.  
Heartbroken setelah ivf cukup berat. Rasanya seperti waktu miscarriage, bedanya kali ini ada harapan yang jauh lebih besar. 
Saya menghabiskan 2-3 hari untuk nangis dan nangis aja. Hari ke-3 saya mulai menata lagi hati saya dan mulai bikin rencana-rencana baru. 
Jumat 9 Oktober ini adalah 'bagi raport' kedua. Tapi deep inside, kami udah tahu hasilnya, even sebelum kami buka hasil lab nya. Kali ini hanya silent tears saja dan kami udah bisa lebih move on. 

Saya mau share beberapa hal yang menurut saya worth to be shared untuk proses ivf ini :

1. Big Faith
Kami (mewakili semua orang dengan fertility problem) sudah sangat terbiasa dengan mencoba dan gagal. Fase TTC yang saya alami sudah cukup komplit. Ask me any method, i will nod and say yes. Obat2an, IUF (insem), HSG (3 times), laparoskopi. Pengobatan alternatif? yes, ask me any place pengobatan alternatif, dari yang berbau ilmiah sampai klenik. 
Tujuan kami mencoba segala cara, ya karena kami berkomitmen untuk menghadirkan buah hati di keluarga. Hidup hanya sekali, dan kesempatan mungkin gak datang dua kali, jadi kami nggak bisa diam saja nggak mencoba apapun atau hanya pasrah saja sama keadaan. 
Tapi mental yang sudah terbentuk dari seluruh TTC ini, harus lebih disiapkan lagi untuk IVF. Seperti yang saya ceritakan, IVF ini bisa dibilang puncak proses TTC. Fase tercanggih dari dunia medis yang ada saat ini. Jadi, saat masuk ke suatu siklus IVF, harapan pasti sangat besar. Keep the faith sebaik mungkin. Faith that helps us bounce back everytime. Kalau iman sebesar biji sesawi saja bisa menggoyahkan gunung, iman sebesar yang dimiliki para TTC couple akan bisa menggoyahkan dunia. :)

2. Siapkan dana. 
IVF adalah prosedur canggih dengan peralatan medis tingkat tinggi dan obat-obatan kelas berat. Untuk seluruh full cycle kami kemarin, kami menghabiskan dana sekitar 80 - 100 juta. Siapkan dana sebaik mungkin, jangan kaget dengan berbagai pengeluaran besar itu. Kalau biasa berobat ke dokter cuma keluar uang paling besar 300rb, harus siap untuk setiap kali kontrol IVF keluar uang 9 jutaan. Dan di Indonesia, sayangnya prosedur IVF belum dicover oleh asuransi. Jadi memang harus siap dana. 
Dan bagi kami yang terpenting, we never regret anything on every TTC expenses yang sudah kami keluarkan. Walau ivf kami gagal, we have no regret AT ALL dalam bidang biaya. Jadi, siapkan dana. Siapkan back up dana. Intinya siapkan dana dan jangan terlalu mikirin dananya. Ingat the main purpose dan berbagai hal yang nggak ternilai dengan uang. It is a process that worth to try. No regret. 

3. Family support.
We keep the news di keluarga inti saja. Tapi ini perlu karena orang tua harus tahu juga apa yang akan dijalani anaknya. Dan honestly, rasanya senang dan tenang, saat lagi terhuyung keluar dari ruang OPU atau ET dan melihat bapak dan ibu saya ikut nungguin disitu. Senang juga saat 2 week wait dapat kiriman makanan dari mertua dan orang tua.Senang juga saat 2ww ditemani oleh orang tua atau mertua. Kebetulan dalam 2 ww kami, orang tua saya ziarah ke Yerusalem, Betlehem dan sekitarnya. Rasanya juga menenangkan, karena rasanya kekuatan doa pendukung kami semakin besar. 

4. Enjoy the proses. 
Semua TTC fighters menurut saya adalah para pejuang. Aura ruang tunggu klinik IVF beda dengan ruang tunggu klinik biasa. Karena isinya orang-orang yg dengan their own struggle, willing to try, not afraid to fail and having BIG FAITH. Ngobrol dengan teman-teman baru di ruang tunggu klinik selalu amazing. Pengalamannya beda-beda, perjuangannya macem-macem. 
Saya sendiri menjalani seluruh proses dengan tenang dan enjoy. Build good relationship dengan dokter. Find the chemistry. Karena gimanapun, dalam TTC ini, gak hanya ada saya & pasangan, tapi juga ada si dokter yang akan membantu. Jadi kami sendiri merasa saat sudah ada chemistry dengan si dokter, kami yakin untuk jadi satu tim jalani IVF ini. Kebetulan dokter saya ini orangnya santai, hangat dan pintar. Jadi saya percaya dia akan membantu kami mencapai tujuan kami. 

5. Elevate the pain tolerance
TTC fighters pasti juga sudah biasa dengan rasa sakit / pain. Hampir semua prosedur TTC itu gak enak. Apalagi IVF. Saya bukan orang yg cengeng terhadap rasa sakit, setelah lewati proses ivf ini, pain tolerance saya makin tinggi. Saya makin familiar dengan jarum suntik (iyalah, tiap hari nyuntik 3 suntikan sendiri), familiar dengan darah, alat pembuka serviks, usg transv (ini mah cemen), prosedur bius, ruang operasi, dsb. Belum lagi dengan berbagai dampak dari obat2an yang masuk ke tubuh kita. Rasanya sangat gak nyaman. Saya belajar dan makin terlatih punya pain tolerance yang tinggi, gak ngeluh dan gak cengeng dengan berbagai rasa sakit itu. Bru yang berkali-kali bilang dia kagum melihat ketegaran saya dengan berbagai prosedur medis itu. Karena dia melihat jarum suntik aja udah lemes duluan :)

6. Keep updated
Saya banyak mencari tahu tentang prosedur  IVF dan jenis-jenis obat yang saya konsumsi dan dampaknya. Saya banyak browse di blog/web/forum-forum dari luar negeri. Karena menurut saya, info nya lebih lengkap dan edukatif. Jenis obat-obatannya pun lebih similar dengan yg saya pakai. Jadi, saya lebih familiar dengan berbagai istilah IVF dari luar negeri, seperti : BFP, BFP, AF, DH, dsb. Blog/web/forum di indonesia belum selengkap dan se-edukatif itu. Tapi sesekali juga saya blogrolling di situs-situs lokal.

7. Siapkan fisik
Ini mungkin yg sering terlupakan. Tapi sepanjang proses TTC kami selama 5 tahun terakhir ini, kami benar-benar menjaga intake makanan sesehat mungkin. Sebisa mungkin clean eating. Menjauhi junk food, soda, dan berbagai hal yang gak sehat. Banyak yang mencibir melihat intake makanan kami yang (hampir selalu) sehat. Tapi, bagi saya, ini penting. We eat good, for a BIG reason. Yang saya rasakan, badan saya selalu fit dan jarang sakit. Karena dalam ivf, usahakan kondisi badan benar-benar prima. Yang saya rasakan juga, badan saya menjadi kooperatif dengan berbagai obat-obatan kimia yang masuk ke badan sepanjang proses ini. Gak terjadi komplikasi atau efek samping dari obat-obatan itu. (kalau baca-baca, banyak yang mengalami komplikasi dari berbagai obat-obatan sepanjang ivf, dan saya cukup bersyukur siklus ivf ini bisa saya jalani dengan kondisi tubuh yang tetap fit). 

I will update more things later on. 
Kami akan mencoba another cycle of IVF dalam sebulan / 2 bulan ke depan. 
Semoga kali ini, the faith will bring down the angels from their playground in Heaven and they willing to live in our family. 




xoxo

Thursday, October 1, 2015

our IVF journey

Perjalanan TTC kami 5 tahun ini, akhirnya sampai di tahap IVF (in vitro fertilization). Bagi kami, IVF adalah puncak dan tahap ter-mutakhir dari perjalanan TTC kami yang sudah bertahun-tahun dengan mengalami berbagai metode medis maupun alternatif ini.

Saya akan ceritakan se-sistematis mungkin proses nya, semoga infonya berguna:


1. Suntik Tapros 3M


Jumat 7 Agustus 2015, kami kembali ke Dokter Budi Wiweko di Klinik Yasmin RSCM Kencana setelah pertemuan terakhir adalah saat insem, awal 2013. (dan sebelumnya laparoskopi kista endometriosis saya dengan beliau juga).
Perjalanan menuju RSCM semacam dilancarkan oleh Tuhan.
Sampai RSCM on time, nunggu 5 menit, langsung masuk ke ruang dokter. 


Ketemu Dokter, friendly & energizing as always. Biasa, langsung usg transv. Dokter bilang kondisinya bagus, kondisi telur bagus dan banyak. Puji Tuhan.. tapi memang kista endo nya kembali lagi. Ukuran 3cm di indung kanan. (still thanks God)

Saya langsung diskusi untuk ivf. Dokter mendukung. 
Dokter langsung resepkan Tapros 3M. Suntikan Tapros akan menjinakkan si kista yang ternyata tumbuh lagi (walau hanya di satu indung telur). Tapros ini akan membuat saya tidak mens (gak siklus) selama 3 bulan. Dalam 3 bulan ini, akan dilakulan prosedur ivfnya.
That's a big step. Dan saya sendirian di ruang dokter, Bru blm nyampe juga. Saya minta waktu diskusi dulu. Dokter oke. Resep Tapros tetap diberikan. 


Bru datang, sebelumnya dia telp gak dpt parkir, karena seperti biasa parkiran RSCM Kencana selalu penuh, tp pas selesai telp itu, mobil di depannya keluar, jadi dia bs langsung parkir. We thought it was also God's way.
Kami diskusi panjang lebar tentang rencana ini. Di sofa ruang tunggu yg udah kosong. Actually, menyenangkan ke dokter di weekdays gini krn sepi dan gak stresful dgn antrian.


Setelah diskusi, kami memutuskan untuk jalani proses.
Lalu suster yg sangat baik dan manis, menyuntikkan Tapros ke perut saya. Here we go..


I dont know what will happen next. But i believe, my body will be cooperative. Kami happy dan senang aja selama proses kemarin itu. Semoga happiness dan suasana ini tetap terjaga sepanjang proses. Karena at the end, all result are in God's hands. 
And we are so ready..


2. Suntik Gonal-F
Jumat 4 Sept 2015, balik lg ke dokter untuk memulai siklus ivf. Sekalian mulai memperhitungkan tanggal untuk cuti, karena saya memang rencana cuti panjang (+/- 3 minggu selama proses ivf).
Tahap awal adalah membesarkan telur, dgn Gonal F. Saya udah pernah menyuntik Gonal F waktu insem 2 tahun lalu. Tp ternyata dosis insem & ivf beda. Waktu insem, dosisnya hanya 75. Untuk ivf 300. Wow, 4 kali lipat yaaa. Tujuannya memang beda. Waktu insem hanya untuk membesarkan sel telur manapun yg akan ovulasi. Sementara di ivf, tujuannya membesarkan sel telur sebanyak2nya untuk dipanen. Jadi bukan  untuk ovulasi. Toh, secara logika, saya jg masih dibawah pengaruh Tapros 3M sehingga gak mungkin ovulasi. 
Geez, just wondering nowadays my body is under those creepy medicine. Siklus badan saya dikendalikan oleh obat2an.


Overall, kali ini saya merasa lebih santai aja untuk ivf ini. Gak ngoyo dan stres seperti beberapa tahun lalu.


Gonal F disuntikkan selama 10 hari. Di hari ke-5 kontrol lagi utk usg, melihat sejauh mana perkembangan sel telurnya. 


Di hari ke-5 ternyata ukuran telur saya belum sebesar yang diharapkan, jadi dokter menambah dosis Gonal F menjadi 375. 

Di hari 6 mulai ditambah suntik Saizen (utk growth hormone). Lalu hari 8 ditambah suntik Luveris (utk hormone LH). 
Semua suntiknya sendiri, setiap hari, di perut. Jadi tiap hari saya bawa perlengkapan obat2an & suntikan ke kantor, semua disimpan di kulkas kantor. Jangan dibayangkan seperti apa berbagai bekas luka jarum suntik di perut saya...
Ini dosis sekali suntiknya. Quite challenging rasanya. Apalagi semakin lama dosisnya ditambah. Ada momen dimana rasanya udah nggak kuat nyuntik perut sendiri lagi, tapi harus dikuat-kuatin. 

Selama proses pembesaran ovum ini, 2 hari sekali harus kontrol ke dokter untuk melihat ukuran telurnya. Puji Tuhan telur saya mencapai ukuran yang diharapkan untuk proses ivf (20 mm) dan jumlahnya pun banyak. 

3. Ovum Pick Up (OPU)
18 Sept 2015, jadwal saya ovum pick up (opu). Hasil usg terakhir, telur saya banyak dan besarnya sudah lebih dr 20mm. Dua hari lalu suntik ovidrel untuk merangsang ovulasi.
Beberapa hari terakhir, selain perut tambah begah, payudara juga bengkak dan sakit. 
Sesuai jadwal, saya harus puasa dr jam 12 malam karena OPU jam 7.30 pagi. Harus puasa karena OPU prosedurnya mirip operasi kecil dengan bius total. Jadi juga didahului dengan konsul sama dokter anestesi, cek darah lengkap, dsb. 


Supaya santai, kami nginep di hotel dekat RS jadi pagi nggak stres di jalan.

Proses OPU sendiri singkat. Jam 7.15 masuk ke ruang OPU, lalu disuntik bius. Baru sadar di ruang recovery ada suster dan dokter. Setengah sadar, saya tanya ke dokter, dapat berapa telur dok? Dokter jawab, masih ngantuk ya bu? Dpt 14. Puji Tuhan dapat banyak telur dan cukup. 
Sekarang tugasnya para embriologist untuk menyatukan sperma dan ovum, menjadi embryo. Dan memantau perkembangan embryo kami setiap hari. 

4. Embryo Transfer (ET)


Senin 21 Sept 2015, kami dapat sms dr klinik yasmin untuk ET jam 2 siang. Padahal tadinya rencana besok selasa di hari ke5. Tapi mungkin menurut embriologist, proses pembelahan embryo nya sudah cukup bagus untuk dilakukan ET. 
Anyway, langsung siapin perlengkapan untuk nginep di hotel 3 hari. Saya memutuskan tidak rawat inap, banyak pasien ET lain yg langsung rawat inap. Tapi suasana di kamar RS malah bikin stres, jadi saya memilih istirahatnya di hotel saja. (lebih murah pula di hotel daripada di kamar RS ;p)
Sampai RS, disiapin makan siang, lalu nunggu dokter datang. Nahan pipis dr jam 2an, baru mulai masuk ruang tindakan jam 16.30. Prosedur ET tidak perlu bius, tapi karena usg nya dilakukan di perut, maka jumlah cairan di perut harus banyak supaya usg nya bisa terlihat dengan jelas. Makanya harus minum banyak dan menahan pipis 30 menit sebelum ET dimulai. 


Sebelumnya, dokter menunjukkan power point foto2 embryo kami. Very professional & informative.
Dari 14 sel telur, yang berhasil menjadi embryo ada 10. 7 di antaranya membelah dengan baik. Dipilih 2 untuk ditanam hari ini, 5 sisanya di frozen.


Proses ET sendiri cuma beberapa menit. Gak sakit sama sekali. Dan sangat informatif, sebelum embryo diambil dari lab di sebelah, saya bisa lihat dari layar TV besar di ruang tindakan bahwa 2 embryo nya diambil oleh embriologist, lalu diberikan ke dokter. 
Sepanjang proses pun saya bisa lihat dari layar usg. 
Setelah embryo ditanam di dinding rahim, saya diminta berbaring di ruang tindakan sekitar 1 jam, lalu boleh pulang. 
Sampai disini semua proses dilanjutkan dengan kekuatan doa. Intervensi medis basically sudah selesai. Proses implantasi si embryo semua tergantung dari kehendak Tuhan. 

Saya bersantai-santai di hotel selama 3 hari, lalu pulang ke rumah dan menghabiskan cuti sampai selesai seluruh proses 2 week wait nya. 


Now, 2 week wait.. hopefully our peanuts grow and stay healthy inside my womb..
Dalam 2 week wait ini, saya masih harus suntik Lovernox di perut setiap hari, obat ini membantu implantansi embryo. Lalu 2 hari sekali juga harus suntik Pregnyl di bokong dan masih ada berbagai obat2an yg harus diminum. Jadi 2 hari sekali saya ke klinik 24 jam di deket rumah untuk minta disuntikkan Pregnyl. 
Proses 2 week wait dan hasilnya, akan saya share berikutnya.


xoxo

Thursday, December 5, 2013

Penyembuhan Alami untuk Flu

Seminggu yang lalu saya terpapar udara malam yang dingin semalaman. Setelah itu, mungkin karena kondisi daya tahan tubuh sedang turun, mulai deh muncul gejala-gejala flu. Sudah beberapa kali tiap kali flu, berusaha untuk tidak langsung minum obat kimia. Basically karena tahu, bahwa flu disebabkan oleh virus. Dan yang paling manjur untuk mengatasi virus adalah daya tahan tubuh kita sendiri. Obat-obatan kimia sekalipun tidak akan bisa mematikan virus itu.

Penyembuhan alami untuk flu / influenza
Jadi apa yang saya minum / konsumsi untuk menyembuhkan flu tersebut :

- Jeruk Nipis
Sehari-hari memang biasanya saya juga mengkonsumis jeruk nipis + madu. Jeruk nipis yang dikonsumsi di pagi hari baik untuk melancarkan metabolisme terutama dalam proses metabolisme lemak dan detoks tubuh kita. 
Nah saat flu tersebut, rumusan jeruk nipis yang dikonsumsi jadi diperbaharui sedikit menjadi seperti ini : 1 sdm jeruk nipis + 2 sdm madu + 5 sdm air matang. Diaduk-aduk, lalu diminum / disendok. 
Leher yang terasa meradang atau batuk yang biasanya terjadi di pagi hari, langsung berkurang setelah mengkonsumsi campuran jeruk nipis ini. 

- Jahe dan Sereh
Ini sebenarnya resep minuman hangat dari Ibu saya. Tapi jahe memang adalah herbal yang memiliki sifat anti-radang. Jadi sangat baik dikonsumsi saat ada radang di tubuh kita, dalam hal flu ini, radang di tenggorokan. Sereh sangat baik untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan menyegarkan. 
Biasanya saya merebus 1,5 gelas air sampai mendidih, lalu ditambahkan 2-3cm jahe (dikupas, cuci & dikeprek), lalu ditambahkan 1 batang sereh yang sudah dimemarkan dan gula merah secukupnya. Gula merah sebaiknya jangan banyak-banyak, karena mungkin rasa manisnya akan merangsang untuk batuk. Direbus sampai mendidih dan cukup harum. Lalu sebelum dituang di gelas, sebaiknya disaring. Supaya larutannya bersih dan tidak membuat tersedak. Maklum kalau sedang batuk kan tenggorokan sangat sensitif. Saya biasanya minum 1 gelas di pagi hari, lalu saya masukkan tumbler untuk dibawa ke kantor dan sepanjang pagi itu saya habiskan seduhan ini. 

- Bawang putih
Bawang putih sudah cukup terkenal dengan sifat antibiotiknya ya. Alami pula. Biasanya kalau sudah mulai batuk pilek dan sakit tenggorokan seperti itu, saya menambahkan 2 siung bawang putih untuk dikonsumsi langsung / dicampur saat makan. Karena kalau bawang putih mentah rasanya pedas dan tidak enak, saya lebih suka beli acar bawang putih yang dijual dalam toples. Biasanya bawangnya pun bawang tunggal yang kualitasnya lebih bagus. Lalu sudah dalam bentuk acar, sehingga rasanya tidak terlalu tajam saat dikonsumsi langsung. 

- Air lemon hangat
Sehari-hari juga saya biasa mencampurkan sepotong lemon dalam tumbler air, karena lemon punya sifat detoksifikasi yang baik. Nah, saat flu batuk pilek tersebut, saya campurkan seiris lemon dalam tumbler air hangat. Usahakan airnya selalu hangat karena akan membuat tenggorokan semakin nyaman. Lalu untuk diminum sepanjang hari. 

-Kompres hangat
Saat didera flu, ada saat dimana kepala rasanya berat sekali. Kompres dengan saputangan hangat di kepala sangat manjur untuk menambah rasa nyaman. 

-Istirahat, listen to our body
Flu merupakan tanda bahwa tubuh kita sedang dalam kondisi tidak sebaik biasanya. Jadi saat sakitnya melanda, listen to the body. Ambil istirahat 1-2 hari sangat manjur untuk mempercepat pemulihan. Istirahat disini maksudnya mengurangi aktivitas fisik melelahkan, kalau bisa banyak tiduran dan istirahat cukup. 

-Tambahkan suplemen vitamin C dan B-kompleks
Saat kondisi tubuh sedang lemah, saya biasa mengkonsumsi suplemen vitamin C & B-kompleks. Dengan ditunjang minum air putih yang banyak ya. 

-Pakai masker hidung.
Saat flu, saluran pernafasan dan batuk kita sebenarnya 'membagikan' virus ke udara di sekitar kita. Dengan pakai masker, ada rasa hangat di hidung yang menyamankan, selain itu juga mengurangi kemungkinan bagi-bagi virus di udara sekeliling kita. Karena toh kalau kita bagi-bagi virus tsb, bisa jadi nanti virusnya kembali lagi ke kita kan. Jadi selalu sedia masker sekali pakai saat flu melanda. Dan hanya dipakai 1 masker / 1 hari ya. Supaya virusnya juga gak selalu nempel di hidung kita yaa.

Dengan istirahat cukup, daya tahan tubuh kita akan memulih dan bisa memerangi virus flu tersebut, kira-kira 5-7 hari semoga flu nya sudah sembuh. Tanpa menambah asupan kimia dalam tubuh. :)

xoxo